Oleh: 64diwarman | 20 Februari 2012

MERAMAIKAN PACU JAWI DI TANAH DATAR

Oleh Diwarman

[Guru SMA 2 Batusangkar]

Eit, eit, eit, ha ha ha haaa, ondeee. (Eit, eit, eit, ha ha ha haaa, aduuuh).  Ini adalah suara sang joki ketika menghalau jawinya pada sawah berlumpur yang merupakan arena pacu jawi di Nagari Tabek Sabtu yang lalu. Ketika itu ada dua ekor jawi atau sapi besar dilepas setelah petugas bersusah payah mengaturnya.  Sang joki itu mengucapkan kata ondeee atau aduuuh dengan suara agak kesal karena tiba dipertengahan arena pacu ternyata jawinya mengamuk dan melambungkan sang joki ke udara. Jawi terus melaju ke garis finish, sedangkan sang joki jatuh terjerembab ke dalam lumpur. Tak lama kemudian ia bangkit dengan penuh lumpur pada sekujur tubuhnya. Kalau dia tidak tersenyum menampakkan giginya maka penonton tak bisa lagi melihatnya.

Pacu jawi atau pacu sapi adalah tradisi anak nagari di Kabupaten Tanah Datar. Kegiatan ini biasanya dilaksanakan di Nagari Tabek, Sungai Tarab, Rambatan, dan Baringin. Jadwal pelaksanaannya adalah setiap hari Sabtu akhir pekan.

Pacu jawi dulu hanya sebagai hiburan dikala panen padi selesai oleh petani. Petani melepas penat dengan menonton pacu jawi yang diadakan oleh nagari. Mereka bersorak sorai sehingga lupa penat kerja di sawah. Ketika itu penonton pacu jawi hanya berasal dari sekitar Tanah Datar saja. Berbeda dengan sekarang pacu jawi telah ditonton oleh turis baik dalam negeri maupun manca negara. Turis manca negara berasal dari Eropah, Australia, Asia dan lain-lain.

Mengapa pacu jawi harus dilestarikan? Sesuatu yang baik dan memberi banyak manfaat kepada masyarakat harus dilestarikan. Begitu juga dengan pacu jawi ini. Apalagi pacu jawi adalah kegitan tradisi nenek moyang kita sejak berabad-abad yang lalu. Sayang sekali kalau kegiatan pacu jawi hilang begitu saja. Kegiatan pacu jawi harus dilestarikan kalau tidak ingin diklaim pula oleh negara tetangga bahwa pacu jawi adalah hak patennya mereka. Kita berterima kasih kepada pemerintah Tanah Datar telah memasukan kegitan pacu jawi ini ke dalam kalender pariwisata, sehingga para turis baik dalam negeri maupun luar negeri dapat menontonnya.

Pelestarian tridisi pacu jawi tidak cukup dengan melaksanakannya saja tiap minggu, tetapi perlu pula promosi. Untuk mempromosikannya banyak cara bisa kita lakukan. Apalagi sekarang zaman internet dimana sebuah informasi bisa tersebar ke mancara negara dalam hitungan detik. Nah, jadi tidak perlu membayar promosi ratusan juta rupiah ke TV, tetapi promosi lewat sebuah web saja sudah sangat manjur. Lakukanlah itu dan lihatlah apa yang akan terjadi. Penonton akan berdatangan lebih banyak lagi.

Kegiatan seperti lomba foto pacu jawi juga adalah termasuk ajang promosi. Melihat foto pacu jawi orang akan mempunyai rasa ingin tahu, bahkan ingin menyaksikan langsung ke lokasi. Sesuai informasi yang kita peroleh pada http://www.tanahdatar.go.id, bahwa Dinas Kebudayaan, Pariwisata dan Olahraga juga menyediakan hadiah menarik, karya foto terbaik akan dicetak dalam bentuk buku serta diikutkan pula pada Pameran Photo Pacu Jawi dan  Pesona Wisata Tanah Datar di Gedung Bentara Budaya Kompas jalan Palmerah Selatan No. 17 Jakarta Pusat bulan September yang akan datang.

Pacu jawi harus dilestarikan karena kegiatan ini unik. Berbeda dengan pacu-pacu yang lainnya. Pacu jawi berbeda dalam lokasi, teknik start, posisi joki, jawi tidak dilecut atau tidak dicambuk.

Pertama, tempat pacu jawi dilaksanakan dalam sawah berlumpur panjangnya lebih kurang 50-75 meter, ini berarti para jawi akan sulit mengangkat kaki untuk bisa lari kencang karena ditahan oleh lumpur. Nah kalau jokinya jatuh, ya berkubang lumpur. Tidak jarang joki hanya dapat terlihat giginya saja karena sudah kotor oleh lumpur. Sepengetahuan penulis belum ada tempat pacu yang seperti ini. Kedua,  teknik berpacunya berbeda juga. Jawi yang akan dilepaskan disiapkan oleh panitia tapi tidak menggunakan box seperti pacu kuda. Persiapan ini agak sulit karena panitia harus langsung memegang jawi. Sering para jawi ini berontak dan mengamuk. Jawi akan dilepas sepasang terdiri dari dua ekor dengan ukuran yang seimbang tinggi dan panjangnya. Kedua jawi dihubungkan oleh seutas tali yang diikatkan masing-masing ke hidungnya. Dan juga masing-masing jawi dipakaikan kerangka bajak. Ketiga, joki tidak duduk di punggung jawi. Joki tegak dengan kokoh pada kedua ujung belakang bajak tiap jawi tadi. Keempat, sang joki mulai menggigit ekor jawi, sehingga jawi akan terkejut dan lari sekuat tenaganya. Kelima, sang joki tidak menggunakan pelecut atau cambuk. Joki memegang ekor jawi sambil menggenjot-genjotnya sehingga lari jawi semakin kencang.

Pacu jawi dilaksanakan pada suatu arena persawahan. Sekurang-kurangnya ada lima petak sawah ukuran cukup luas yang digunakan. Satu petak sawah pertama untuk menampung jawi yang baru datang atau tempat pendaftarannya. Petak sawah kedua ialah petak utama ialah tempat berpacunya jawi. Petak ini panjangnya kira-kira 50 – 75 meter dengan lebar lebih kurang 20 meter. Petak utama ini berlumpur dan digenangi dengan air kira-kira sampai betis orang dewasa. Petak sawah ketiga adalah untuk tempat jalan bagi jawi ke arah tempat start. Petak ini panjang tetapi tidak terlalu lebar. Sedangkan petak swah keempat adalah tempat istirahat jawi setelah finish. Kemudian yang terakhir adalah satu petak sawah kelima untuk memandikan jawi setelah selesai berpacu. Sawah digenangi dengan air yang banyak dan bersih.

Manfaat pacu jawi dulu dan sekarang sudah berbeda. Dulu pacu jawi diadakan untuk hiburan bagi para petani yang baru selesai panen. Mereka datang membawa jawi dan berpacu pada sawah yang telah dipanen. Penontonnya bersorak sorai menghalau jawinya agar bisa lari lebih kencang. Selain itu pacu jawi membantu mengolah sawah. Biasanya sawah yang telah digunakan itu dengan sedikit perbaikan sudah bisa langsung ditanami padi. Karena sawah itu sudah menjadi lunak oleh jawi-jawi yang berpacu. Manfaat lain adalah makin banyak masyarakat yang ingin berternak jawi. Karena jawi yang telah pandai berpacu itu harganya menjadi mahal. Hal ini berarti bisa meningkatkan taraf hidup masyarakat.

Tetapi sekarang manfaat pacu jawi sudah diperluas. Bahkan bisa diamanfaatkan oleh pemerintah daerah untuk menambah pendapatan daerah. Tentu saja pelaksanaan pacu jawi ini haruslah dikelola dengan baik sehingga tidak mengecewakan para penonton yang datang.

Hal lain yang perlu menjadi perhatian panitia adalah keamanan dan ketertiban para pengunjung. Sering sekali kita lihat bahwa pengunjung suka berdiri terlalu dekat ke jawi bahkan ada yang suka berdiri di garis finish. Ini sangat berbahaya, apa lagi ada beberapa jawi yang suka mengamuk sehingga penonton harus hati-hati.

Harapan kita adalah pacu jawi menjadi pilihan hiburan tersendiri bagi masyarakat kita dan jumlah penontonnya makin lama makin ramai. Semoga!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: