Oleh: 64diwarman | 19 Januari 2009

Artikel

*) Dantimala, S.Pd adalah guru SMAN 2 Batusangkar

PENANAMAN NILAI-NILAI PANCASILA DALAM PEMBELAJARAN KEWARGANEGARAAN

MELALUI METODE AKTIVE LEARNING

DI SMAN 2 BATUSANGKAR

Dantimala*)

Abstract: The implementation of Active Learning in order to make the students more understand about the values of Pancasila in studying Civic in SMAN 2 Batusangkar has shown good results. Firstly, there is a change on the students interest in studying civic. Futhermore, the students behaviors are better than before and are suitable with the values of Pancasila. These good results prove that civic lesson plays important role in it. In studying civic, the students are taught to be good citizens. They know their rights and their duties to our lovely Nation. The writer got this conclusion by doing some observations directly the observation was done each time Active Learning was applied in the learning process.

Kata Kunci: Pendidikan Kewarganegaraan, hak dan kewajiban warganegara, kepribadian ( identitas ) Bangsa Indonesia.

A. PENDAHULUAN

Pendidikan Kewarganegaraan (civic education ) merupakan mata pelajaran yang memfokuskan pada pembentukan pengetahuan dan sikap terhadap pribadi dan perilaku anak didik. Peserta didik itu dapat berasal dari latar belakang kehidupan yang berbeda, baik agama, sosio kultural, bahasa, usia dan suku bangsa. Hal ini bertujuan agar warganegara Indonesia menjadi cerdas, terampil, kreatif dan inovatif serta mempunyai karakter yang khas sebagai bangsa Indonesia yang dilandasi nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945.

Dalam UUD 1945 ketentuan tentang Pendidikan Nasional diatur menurut pasal 31 ayat 3 dan ayat 5 yang berbunyi:(ayat 3): ” Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan suatu sistem Pendidikan Nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan Undang-Undang.” ( ayat 5 ): ” Pemerintah memajukan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dengan menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan serta kesejahteraan umat manusia. ”

Berdasarkan ketentuan yang diatur dalam pasal 31 ayat 3 dan ayat 5 diatas, maka jelaslah bahwa Pendidikan Nasional Indonesia haruslah diarahkan kepada pembentukan insan-insan manusia Indonesia yang berilmu pengetahuan, yang cerdas dengan tetap memiliki keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, yang memupuk semangat persatuan dan kesatuan bangsa demi terwujudnya kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia.

Seiring dengan pelaksanaan pendidikan di Indonesia, dimana pendidikan diharapkan dapat mempersiapkan anak didik menjadi warganegara yang mempunyai komitmen yang tinggi untuk mempertahankan atau menjaga dan melestarikan keberadaan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang sama-sama kita cintai ini. Maka dari itu, para generasi muda bangsa diharapkan harus mampu mengembangkan komitmennya terhadap prinsip-prinsip kehidupan masyarakat yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

Tujuan mata pelajaran Kewarganegaraan adalah untuk mengembangkan kemampuan-kemampuan ( Depdiknas, 2003 ) sebagai berikut:

1. Berfikir secara kritis, rasional, dan kreatif dalam menanggapi isu kewarganegaraan.

2. Berpartisipasi secara aktif dan bertanggung jawab, serta bertindak secara cerdas dalam kegiatan masyarakat.

3. Berkembang secara positif dan demokratis untuk membentuk diri dan pribadi berdasarkan pada karakter-karakter masyarakat Indonesia agar dapat hidup bersama dengan bangsa-bangsa lainnya, dan

4. Berinteraksi dengan bangsa-bangsa lain dalam percaturan dunia secara langsung atau tidak langsung dengan memanfaatkan tekhnologi dan komunikasi.

Menurut Standar Kompetensi Mata Pelajaran Kewarganegaraan SMA, SMK dan MA ( Depdiknas, 2003 ) dan sesuai dengan paradigma baru pendidikan kewarganegaraan, dimana anak didik ( siswa ) diarahkan juga agar memiliki kompetensi pengetahuan kewarganegaraan (civics knowledge), keterampilan kewarganegaraan ( civics skill ) dan watak atau nilai-nilai kewarganegaraan ( civics value ) serta juga memiliki kecakapan-kecakapan hidup nantinya, khususnya kecakapan hidup dibidang personal, sosial dan intelektual.

Salah satu komponen yang masuk kedalam keterampilan kewarganegaraan adalah keterampilan intelektual kewarganegaraan ( intellectual skill ) yaitu keterampilan yang berkenaan dengan penguasaan materi pelajaran kewarganegaraan yang meliputi kajian atau pembahasan tentang negara, warganegara, hubungan antara negara dengan warganegaranya, hak dan kewajiban negara dan warganegara, masalah pemerintahan, hukum, politik, moral, dan sebagainya. Sedangkan keterampilan intelektual mengandung arti keterampilan, kemauan, atau kapabilitas manusia yang menyangkut aspek kognitif, bukan aspek gerakan ( psycomotor ) fisik atau sikap ( Depdiknas 2003:3 )

Berangkat dari pernyataan ini, maka sudah barang tentu pelaksanaan proses Pendidikan Nasional di Indonesia, baik melalui pendidikan formal maupun non formal, diarahkan kepada penanaman nilai-nilai kepribadian kepada setiap anak didik agar menjadi generasi bangsa yang cerdas, yang berilmu pengetahuan dengan keterampilan yang tinggi dalam kemajuan teknologi dengan tetap berpijak kepada nilai-nilai kepribadian bangsa yaitu kepribadian Pancasila.

Namun kenyataan yang kita jumpai sekarang, dalam proses pelaksanaan pendidikan di sekolah-sekolah seakan adanya indikasi untuk menghilangkan proses penanaman nilai-nilai terhadap anak didik, karena yang lebih diutamakan adalah penekanan pada kemampuan kognitif dan ketercapaian psykomotorik semata dan sangat kecil porsentasinya yang mengacu pada pembentukan afektif dan perilaku anak didik.

Suatu contoh, dalam kriteria penentuan kelulusan maupun kriteria penentuan kenaikan kelas, tidak lagi meletakkan mata pelajaran yang mempunyai kompetensnsi yang besar dalam pembentukan sikap dan perilaku anak didik pada posisi yang menentukan. Peranan mata pelajaran Agama, Pendidikan Kewarganegaraan dan Budi Pekerti seolah-olah tidak ada lagi dalam penentuan kelulusan dan kenaikan kelas anak didik. Justru mata pelajaran yang dianggap sangat penting adalah mata pelajaran-mata pelajaran yang di uji nasionalkan.

Kurikulum Pendidikan Nasional dewasa ini seakan-akan mengarahkan proses pendidikan Negara ini ke arah pembentukan pemahaman Kognitif dan Psycomotor semata dan kurang menekankan betapa pentingnya arti afektif dari sebuah proses pendidikan.

Selain meletakkan kriteria kelulusan hanya pada mata pelajaran-mata pelajaran tertentu yang notabene jauh dari usaha pembentukkan pribadi anak didik, juga seakan-akan ada usaha untuk menghilangkan sama sekali unsur pendidikan kearah pembentukan watak dan prilaku siswa ( anak didik) kearah berfikir kritis tentang kondisi negaranya, atau penunjukan reaksi tentang fenomena-fenomena yang terjadi dalam negara, karena anak didik cenderung diarahkan hanya untuk mengetahui tanpa dibekali kemampuan untuk berbuat.

Hal ini dibuktikan dengan adanya beberapa kali penggantian nama untuk mata pelajaran Kewarganegaraan ( sekarang ), mulai dari Pendidikan Moral Pancasila (PMP) diganti menjadi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKN). Sekarang hanya tinggal Kewarganegaraan saja, yang ditilik dari judul ini, proses pembelajarannya jelas lebih ditekankan kepada unsur kognitif semata.

Hal inilah yang merupakan dilema bagi Guru-guru mata pelajaran Kewarganegaraan didalam menjalankan tugasnya sebagai seorang pengajar sekaligus sebagai pendidik. Pada hal kita tahu pasti, seorang Guru yang Profesional itu, tugasnya tidak hanya mentransferkan sejumlah ilmu saja kepada anak didiknya, melainkan juga mendidik agar anak didiknya mampu berperilaku sebagai seorang yang terpelajar, berahlak mulia, berbudi pekerti yang luhur, sopan santun, lemah lembut, dan berkepribadian sesuai dengan nilai-nilai yang ada dalam pandangan hidup Bangsa ini, yaitu Pancasila.

Namun ironisnya, para petinggi di negeri ini seolah-olah tidak menyadari arti pentingnya pendidikan perilaku dan budi pekerti yang ditanamkam sejak dini bagi generasi penerus bangsa, agar kelak bangsa kita yang tercinta ini tumbuh menjadi bangsa yang berkepribadian, dengan jati diri yang jelas dan tidak gampang diombang ambingkan oleh kemajuan zaman.

Penyusunan program-progaram pendidikan sampai dengan masalah pendanaan cenderung ditumpangi dengan kepentingan-kepentingan politis. Sebagai contoh : Pencabutan Tap MPR No II / MPR / 1978 tentang Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila di cabut dengan Ketetapan MPR No XVIII / MPR / 1998 yang katanya sebagai upaya reformasi dari praktik manipulasi interpretasi idiologi Pancasila untuk kepentingan stastus quo penguasa orde baru. Penetapan anggaran dana pendidikan agar dapat mencapai 20 % dari dana RAPBN juga menempuh perjuangan yang sangat alot.

Padahal, terlepas dari kepentingan unsur politik, penanaman nilai-nilai Pancasila melalui program penataran Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila terasa sangat efektif dan efisien dalam membentuk pribadi bangsa yang sesuai dengan nilai-nilai luhur dan cita-cita moral para pendiri negara.

Sepuluh tahun sudah reformasi berlangsung, ternyata membawa perubahan yang sangat mendasar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia, mulai dari bidang idiologi, politik, ekonomi, sosial dan budaya maupun di bidang pertahanan dan keamanan. Yang paling memprihatinkan penulis, dengan adanya reformasi di bidang Idiologi, mempunyai dampak yang sangat besar terhadap bidang-bidang kehidupan lainnya, terutama terhadap bidang sosial budaya yang paling dekat hubungannya dengan dunia pendidikan.

Terjadi pergeseran nilai yang significan dalam kehidupan masyarakat Indonesia umumnya, masyarakat dunia pendidikan khususnya, terutama di lingkungan penulis bertugas. Suatu contoh perbandingan, semasa selagi gencar-gencarnya pelaksanaan pensosialisasian nilai-nilai Pancasila melalui penataran-penataran Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila kedalam kehidupan bangsa Indonesia secara luas, bangsa Indonesia dikenal sebagai bangsa yang santun, ramah tamah, yang mempunyai toleransi dan kepedulian yang tinggi terhadap sesama, tanpa mempedulikan ras dan keturunan serta warna kulit manusianya. Sehingga dalam program pemerintah menggalakkan pariwisata di Indonesia, para turis manca negara seperti berduyun-duyun mendatangi atau mengunjungi tanah air Indonesia yang indah ini.

Namun sekarang, semuanya seakan hanya tinggal mimpi. Masyarakat Indonesia seperti kehilangan ramah tamahnya, kehilangan senyum manisnya. Yang ada hanyalah masyarakat yang memikirkan bagaimana mempertahankan hidupnya, bagaimana mendapatkan minyak tanah yang seakan menghilang dari peredaran, bagaimana menemukan gas elpiji yang seolah raib di telan bumi. Masyarakat cenderung seperti kehilangan rasa kemanusiaannya, memutilasi manusia bagaikan memotong-motong daging ayam saja, emosional warga negara cenderung tidak lagi terkendali, hanya karena masaalah yang sangat sederhana dapat memicu amarah massa. Masaalah dosa adalah masaalah biasa-biasa saja, tidak adalagi orang yang mau atau mampu mengatasinya.

Sementara itu anak-anak didik yang ada di sekolah-sekolah tidak lagi peduli apa itu Pancasila, apa itu UUD 1945, apa itu nilai-nilai nasionalisme apalagi nilai-nilai patriotisme. Mereka hanya sibuk mempelajari bahkan kalau perlu mencari kunci jawaban soal kesana kemari agar dapat lulus dalam melewati ujian nasional yang diselenggarakan negara ini.

Inilah keprihatinan yang sangat besar bagi penulis. Masyarakat kita seolah-olah tidak lagi tersentuh dengan nilai-nilai kebenaran, tidak lagi memiliki hati nurani, Pancasila hanya tinggal sebagai lambang saja, tanpa mampu menuntun masyarakat kita untuk bertindak sebagai manusia yang sesungguhnya. Pancasila tidak lagi berfungsi sebagai pedoman dalam bersikap dan bertingkah laku. Manusia cenderung bertindak hanya mengikuti kata hatinya saja, tanpa mau lagi mendengar bisikan-bisikan hati nurani yang biasanya berisikan tentang nilai-nilai kebenaran.

Terasa berat dan sulit dalam menanamkan kembali nilai-nilai luhur Pancasila kedalam kehidupan masyarakat kita sekarang ini. Pancasila yang merupakan nilai-nilai dasar kepribadian nenek moyang bangsa ini, seharusnya kita jaga, kita pelihara dan kita lestarikan kepada generasi-generasi penerus bangsa, agar bangsa ini tidak kehilangan jati dirinya yang sesungguhnya.

Berangkat dari keprihatinan inilah penulis berusaha merumuskan beberapa masalaah yang penulis hadapi selama bangsa kita menjalani reformasi. Penulis sangat sedih dengan kondisi bangsa kita sekarang ini secara umumnya, dan kondisi perilaku anak-anak didik penulis secara khususnya. Apa bila kondisi ini dibiarkan begitu saja tanpa ada usaha untuk mengembalikan nilai-nilai kehidupan bangsa ini kepada kepribadian bangsa Indonesia yang sesungguhnya, penulis yakin suatu saat nanti kita menjadi lupa terhadap diri kita sendiri, bangsa apa kita ini sesungguhnya.

Maka dari itu, penulis telah mengamati perubahan-perubahan yang terjadi selama kurun waktu sepuluh tahun terakhir ini, terutama dalam dunia yang penulis geluti selama dua puluh tiga tahun bertugas sebagai Guru sekaligus sebagai pendidik. Perubahan-perubahan yang mendasar terhadap pola prilaku anak didik yang penulis jumpai di tempat penulis bertugas adalah:

1. Hilangnya minat belajar ( kesungguhan ) dalam mempelajari mata pelajaran Kewarganegaraan, karena dianggap bukan lagi sebagai salah satu mata pelajaran yang penting dan tidak menentukan dalam kriteria kelulusan maupun dalam kenaikkan kelas.

2. Kurangnya kandungan nilai-nilai Pancasila dalam setiap materi ajar pada pelajaran Kewarganegaraan, dan sepertinya ada indikasi menghilangkan unsur-unsur pendidikan serta penanaman nilai moral terhadap anak didik pada mata pelajaran ini, dengan adanya beberapa kali penggantia nama, mulai dari ”Pendidikan Moral Pancasila”diganti menjadi ”Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan”, sekarang diganti lagi dengan judul ” Kewarganegaraan ” saja. Yang semula ditekankan adalah pendidikan dan penanaman nilai-nilai Pancasila, akhirnya hanya ditekankan pada unsur pengetahuannya yang lebih utama.

3. Dengan dihilangkannya kandungan penanaman nilai Pancasila dalam mata pelajaran Kewarganegaraan sekarang ini, menjadikan mata pelajaran ini kurang menarik, dan bersifat monoton karena sulit menemukan keterkaitannya secara langsung dengan nilai-nilai kehidupan yang ada dalam masyarakat.

4. Terdapatnya perubahan perilaku anak didik yang sangat significant, terutama yang berkaitan dengan nilai-nilai yang terkandung di dalam Pancasila, seperti menurunnya rasa keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, kurangnya memiliki rasa malu, kurang menghormati Guru, tidak mau peduli terhadap sesama teman, egoisme yang tinggi dan sangat merosotnya nilai-nilai kedisiplinan.

5. Turunnya gairah atau semangat guru-guru mata pelajaran Kewarganegaraan didalam mengajar atau mendidik peserta didik karena sulitnya menemukan metode yang dapat memotivasi semangat belajar peserta didik.

Dari rumusan masaalah yang penulis kemukakan di atas, penulis berusaha untuk menemukan solusinya melalaui metoda-metoda pembelajaran yang sesuai, agar mata pelajaran Kewarganegaraan ini tetap diminati dan mampu menarik perhatian anak didik untuk mempelajarinya. Salah satunya adalah mencari dan menemukan metoda-metoda yang sederhana namun dapat difungsikan sebagai usaha penanaman kembali nilai-nilai Pancasila melalui materi-materi ajar yang telah ditetapkan di dalam kurikulum.

Meskipun materi-materi yang terkandung di dalam mata pelajaran Kewarganegaraan sekarang ini cenderung lebih mengutamakan unsur kognitifnya, namun penulis tetap berusaha dalam setiap penyajian materi pelajaran, melaksanakan sebuah metoda yang dapat berfungsi sebagai usaha unutuk menanamkan kembali nilai-nilai kebenaran yang dituntut sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.

Salah satu contoh, pada semester I tahun ajaran 2008-2009 ini, untuk kelas XI program IPA dan IPS di SMAN 2 Batusangkar, salah satu materi ajar pelajaran Kewarganegaraan adalah ” budaya politik ”. Dalam hal ini dipelajari berbagai macam budaya politik yang hidup dalam masyarakat, baik dalam ruang lingkup nasional maupun internasional. Berdasarkan fakta yang sering didengar, dilihat dan dirasakan secara langsung, baik oleh anak didik sebagai subjek yang tengah belajar, maupun oleh penulis sebagai tenaga pengajar dan tenaga pendidik, dapat memberikan diskriptif, budaya politik macam apa yang tengah berkembang dan budaya politik bagaimana yang idealnya hidup dan berkembang dalam masyarakat bangsa indonesia yang berdasarkan kepada Pancasila.

Sehubungan dengan fungsi dan peranan Pancasila dalam kehidupan Bangsa Indonesia, penulis mencoba mengutip pendapat Bapak Profesor Dr. Azyumardi Azra, MA dalam bukunya yang berjudul Pendidikan Kewarganegaraan ( civic education ) DEMOKRASI HAK ASASI MANUSIA DAN MAYARAKAT MADANI, Edisi ketiga yang disunting oleh A. Ubaedillah dan Abdul Rozak, th 2008, halaman 21, tentang Pancasila: Nilai Bersama dalam kehidupan kebangsaan dan Kenegaraan. ”Tidak pernah ada suatu bangsa hidup terpisah dari akar tradisinya sebagaimana tidak ada pula suatu bangsa yang hidup tanpa pengaruh dari luar. Bangsa yang besar adalah bangsa yang hidup dengan kelenturan budayanya untuk mengadaptasi unsur-unsur luar yang dianggap baik dan dapat memperkaya nilai-nilai lokal yang dimiliki. Ketidakmampuan beradaptasi dengan budaya luar acapkali menempatkan bangsa tersebut ke dalam kisaran kekeringan atau kekerdilan identitas. Namun demikian, terlalu obsesi dengan budaya luar dan pada saat yang sama mencampakkan tradisi dan nilai-nilai baik lokal, berpeluang menjadikan bangsa tersebut kehilangan identitas. Akibatnya bangsa tersebut tidak pernah menjadi dirinya sendiri .”

Selanjutnya masih dalam buku yang sama pada hal. 25 tentang Revitalisasi Pancasila, ” Karena posisi Pancasila yang krusial seperti ini, tegas Azra, maka sangat mendesak untuk dilakukan rehabilitasi dan rejuvenasi Pancasila. Rejuvenasi Pancasila dapat dimulai dengan menjadikan Pancasila sebagai public discourse ( wacana publik ). Rehabilitasi dan rejuvenasi Pancasila memerlukan keberanian moral kepemimpinan nasional. Empat kepemimpinan nasional pasca Soeharto sejak dari Presiden B. J. Habibie, Presiden Abdurrahman Wahid, Presiden Megawati Soekarno Putri, sampai Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, lanjut Azra, belum berhasil membawa Pancasila ke dalam wacana dan kesadaran publik. Ada kesan traumatik untuk kembali membicarakan Pancasila. Kini, sudah waktunya para elite dan pemimpin nasional memberikan perhatian khusus kepada idiologi pemersatu ini jika kita betul-betul peduli pada integrasi negara bangsa Indonesia. ”

Sehubungan dengan pendapat Bapak Azra diatas, maka penulis berani menyimpulkan bahwa melestarikan nilai-nilai Pancasila itu memang perlu dilakukan, agar Bangsa Indonesia tidak kehilangan identitas dan jati dirinya.

Andai kata para Pemimpin Nasional seakan masih enggan membuka wacana tentang Pancasila ini secara global, mengingat traumatik yang dialami bangsa ini akibat dari manipulasi Idiologi untuk kepentingan rezim orde baru, maka, terlepas dari kepentingan-kepentingan politik tersebut, menurut penulis alangkah baiknya penanaman kembali nilai-nilai Pancasila itu dimulai dari bawah agar tidak terkesan sebagai proses pengindoktrinasian oleh penguasa, yaitu dari kesadaran masyarakat akan pentingnya memelihara dan melestarikan nilai-nilai budaya bangsa ini agar tetap menjadi bangsa yang berkepribadian dan bangsa yang memiliki identitas tersendiri dalam pergaulan internasional.

Cuma saja dukungan dari pihak pemerintah juga sangat diperlukan, agar usaha ini dapat bersifat kebangsaan ( nasional ), bukan hanya merupakan gerakan lokal semata. Karena apabila usaha penanaman nilai-nilai Pancasila ini tidak bersifat nasional, maka fungsi dan peranan Pancasila sebagai Idiologi perekat persatuan dan kesatuan bangsa tidak akan menunjukkan keampuhannya.

Dalam usaha mengatasi dilema yang penulis hadapi sebagai tenaga pengajar sekaligus sebagai tenaga pendidik untuk menanamkan kembali nilai-nilai Pancasila terhadap kepribadian setiap anak didik, salah satu cara yang paling efektif adalah dengan menghidupkan dan melestarikan kembali nilai-nilai Pancasila melalui pembelajaran Kewarganegaraan di setiap sekolah umumnya, dan di sekolah tempat penulis bertugas khususnya.

Setiap penyusunan program pembelajaran, penulis berusaha menemukan metoda yang tepat untuk menanamkan nilai-nilai Pancasila dari setiap materi ajar yang akan di ajarkan. Salah satunya adalah penelitian yang penulis lakukan saat ini yaitu penggunaan metoda ” ACTIVE LEARNING ” yang merupakan 101 strategi pembelajaran aktif yang ditulis oleh MEL SILBERMAN dan di susun kembali oleh DR. Komaruddin Hidayat.

Metode ” ACTIVE LEARNING ” adalah suatu metode pembelajaran yang menggunakan 101 strategi belajar siswa aktif. Dalam strategi-strategi belajar siswa aktif oleh Mel Silberman ini, antara lain di bagi atas beberapa strategi yaitu: Bagaimana membuat peserta didik ( anak didik ) aktif sejak dini?, Bagaimana membantu anak didik memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan perilaku…… secara aktif? Dan Bagaimana anak didik dibantu agar belajar tidak lupa? ”

Penulis tertarik dengan pendapat Confucius yang dikemukakan oleh Mel Silberman dalam bukunya yang berjudul ” Active Learning ” ( 2002:1 ), yaitu: ” What I hear, I forget. What I hear and see, I remember a little. What I hear , see, and questions about or discuss with someone else, I BEGIN TO UNDERSTAND. What I hear, see, discuss, and do, I acquire knowledge and skill. What I teach to another, I master ( Apa yang saya dengar, saya lupa. Apa yang saya dengar dan lihat, saya ingat sedikit. Apa yang saya dengar, lihat dan tanyakan atau diskusikan dengan yang lain, saya mulai mengerti. Apa yang saya dengar, lihat, diskusikan, dan lakukan, saya memperoleh pengetahuan dan keterampilan. Apa yang saya ajarkan pada orang lain, saya menguasainya.”

Untuk mendapatkan hasil yang maksimal, penanaman nilai-nilai Pancasila dalam setiap materi ajar mata pelajaran Kewarganegaraan, anak didik tidak hanya dijadikan objek pembelajaran, namun harus dijadikan subjek, agar anak didik dapat beraktivitas secara langsung dalam setiap proses pembelajaran, anak didik hendaknya dibawakan pada situasi dan kondisi yang sesungguhnya yang benar-benar terjadi dalam kehidupan nyata, kemudian anak-anak didik diarahkan pada standar nilai-nilai yang sudah ada, agar anak didik dapat memahami dan mengerti kenapa terjadi demikian ? Apa sebabnya? Bagaimana seharusnya? Anak didik akan menemukan sendiri jawaban dari setiap permasalahan yang timbul dari kejadian-kejadian nyata yang terjadi disekitar kehidupannya.

Menurut penulis, disinilah peran tiori yang dikemukakan oleh Confucius yang dikembangkan oleh Mel Silberman, dimana anak didik akan mudah mengerti, memahami dan mencarikan solusi dari setiap kejadian-kejadian yang mereka rasakan secara langsung. Dengan demikian anak-anak didik akan terbiasa berfikir kritis, inofatif dan mampu bertindak aktif dalam kehidupannya sehari-hari.

Dari ketertarikan penulis terhadap tiori-tiori yang dikemukakan oleh Mel Silbermen dalam 101 Strategi Pembelajaran Aktif, seringkali penulis menerapkan tiori-tiorinya dalam setiap pembelajaran Kewarganegaraan yang penulis ajarkan. Salah satunya adalah terhadap penelitian yang penulis lakukan saat ini dalam mengajarkan materi ” Sikap Keterbukaan dan Keadilan dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara”, dengan menggunakan metoda ” TRUE OR FALSE ” ( BENAR APA SALAH ).

Metode ini mirip dengan metode Jigsaw, dimana anak didik diajak berperan langsung dalam permaianan kartu. Cuma saja dalam hal metoda ” benar atau salah ” anak didik diajak memberikan penilaian terhadap kejadian-kejadian yang tengah terjadi ( hangat-hangatnya ) dalam kehidupan masyarakat di sekitarnya, kemudian mencocokkan pendapatnya dengan nilai-nilai Pancasila yang telah ditulis kedalam guntingan-guntingan kertas yang menyerupai kartu-kartu.

Contoh: Melalui peristiwa penangkapan saudara Aulia Pohan yang merupakan besan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam perkara pidana kasus korupsi, anak didik diberikan kesempatan mengemukakan pendapat-pendapat mereka. Kemudian mereka merumuskan pendapat-pendapatnya itu kedalam pernyataan-pernyataan benar atau salah, lalu mereka harus memberikan alasan dan argumentasi, kenapa pernyataan miliknya dikatan benar atau salah, kemudian menyesuaikan pendapat benar atau salahnya itu dengan nilai-nilai Pancasila yang telah disusun kedalam bentuk kartu-kartu. Tindakan penangkapan Aulia Pohan benar, karena sesuai dengan ketentuan negara kita sebagai negara hukum dan penangkapan Aulia Pohan sesuai dengan sila ” Kemanusiaan yang adil dan beradab” ( tertulis di dalam kartu ). Perbuatan Aulia Pohan melakukan tindakan korupsi adalah salah, karena telah melanggar hukum dan tidak sesuai dengan pengamalan sila ”Ketuhanan Yang Maha Esa ” dan sila ” Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.”( tertulis di dalam kartu).

Ketepatan dan kecepatan anak didik di dalam mencocokkan jawabannya dengan kartu-kartu yang disediakan yang berisikan nilai-nilai Pancasila, serta kebenaran argumentasi yang mereka berikan dalam menentukan pendapat mereka, akan diberikan aplus berupa hadiah-hadiah kecil yang menarik yang penulis sediakan. Sehingga dalam proses pembelajaran ini suasana pembelajaran menjadi hangat dan menarik. Begitulah salah satu contoh metode pembelajaran yang penulis terapkan dalam usaha penanaman kembali nilai-nilai Pancasila melalui pembelajaran Kewarganegaraan dengan menggunakan metode-metode belajar siswa aktif yang dikemukakan Mel Siberman.

Penulis berharap, dengan penelitian yang penulis lakukan ini dapat membangkitkan kembali minat anak didik dalam mempelajari materi-materi pelajaran Kewarganegaraan sekaligus dapat ditanamkan kembali nilai-nilai sikap dan prilaku kepada anak didik, agar nantinya setelah mereka terjun menjadi anggota masyarakat, nilai-nilai ini tetap mereka pegang dan di jadikan pedoman dalam mereka menjalani kehidupan, baik sebagai individu, anggota keluarga, anggota masyarakat, maupun sebagai warganegara yang baik.

Disamping itu, semoga dengan adanya tulisan dan penelitian yang penulis lakukan ini, dapat memotifasi kembali semangat guru-guru Kewarganegaraan dimana saja berada umumnya, dan dilingkungan penulis bertugas khususnya, untuk tetap bersemangat dalam menanamkan nilai-nilai moral Pancasila kepada setiap anak didiknya sebagai tanggung jawab yang besar demi memelihara nilai-nilai budaya bangsa khususnya, dan memelihara integritas Negara Kesatuan Republik Indonesia umumnya.

Metode penelitian yang penulis laksanakan adalah metode kualitatif dengan peninjauan serta pengamatan langsung terhadap hasil yang diperoleh dari setiap pelaksanaan proses pembelajaran Kewarganegaraan dengan menggunakan metode active learning.

Sasaran penelitian adalah seluruh kelas yang penulis masuki dan melaksanakan proses pembelajaran di SMAN 2 Batusangkar. Berdasarkan hasil ujian harian yang dilaksanakan secara berkala, nilai-nilai ujian peserta didik menunjukkan perubahan yang cukup menggembirakan.

Sebelum menggunakan metode yang bervariasi seperti yang dikemukakan oleh Mel Silberman, lebih dari separuh nilai peserta didik mengalami kegagalan ( belum tuntas).

Hal ini berlaku untuk semua kelas, termasuk kelas siswa yang dikategorikan sebagai kelas unggul. Namun setelah penulis mencobakan tekhnik-tekhnik mengajar dengan metode Silberman ini, yang sekaligus penulis laksanakan penanaman nilai-nilia Pancasila kedalam setiap proses pembelajaran, hasilnya: hampir keseluruhan peserta didik, nilai-nilai ulangan hariannya dapat dikategorikan tuntas.

Disamping itu, nilai afektif (sikap dan prilaku) peserta didik juga memperlihatkan perubahan-perubahan yang menggembirakan. Terdapat hubungan yang harmonis antara penulis selaku guru dan pendidik dengan peserta didik. Begitu juga hubungan antara sesama peserta didik sendiri, seakan terjalin kerjasama yang baik dan saling menghargai. Penulis yakin, bila metode ini diterapkan secara terus manerus dalam setiap proses pembelajaran, akan dapat dilhat perubahan perilaku peserta didik yang lebih menggembirakan, yaitu pembentukan kepribadian yang berdasarkan kepada nilai-nilai Pancasila, disamping nilai kognitifpun mencapai hasil yang sesuai dengan yang penulis harapkan.

  1. HASIL

Berdasarkan pengamatan dalam praktek pembelajaran Kewarganegaraan yang penulis laksanakan setiap mengajar mata pelajaran Kewarganegaraan di SMAN 2 Batusangkar, dengan menggunakan metoda belajar siswa aktif ( active learning ) yang dikemukakan oleh Mel Silberman ini, penulis berani menyimpulkan bahwa:

1. Meskipun pada awalnya pelajaran Kewarganegaraan ini kurang diminati anak didik karena dianggap sebagai mata pelajaran yang kurang penting dan tidak begitu berpengaruh dalam penentuan kelulusan maupun penentuan kenaikan kelas, namun dengan digunakannya metode-metode belajar aktif ala Mel Silberman ini, proses pembelajaran kewarganegaraan menjadi menarik dan disukai kembali oleh anak didik.

2. Melalui metode ”active learning ”, anak didik dapat dilibatkan secara langsung dalam setiap proses pembelajaran, sehingga tidak ada lagi para peserta didik yang bersifat pasif selama proses pembelajaran berlangsung.

3. Dengan menggunakan metode-metode yang menarik yang terdapat dalam ”active learning” ini, seperti metode ” True or False” ( benar atau salah) atau metode ” Exchanging Viewpoint ” ( pertukaran pandangan ) dapat digunakan sebagai sarana penanaman atau penerapan kembali nilai-nilai Pancasila kepada setiap anak didik melalui materi pembelajaran Kewrganegaraan.

4. Dengan adanya penemuan atas metode-metode ini, penulis sebagai guru Kewarganegaraan bergairah dan bersemangat kembali mengajarkan materi-materi yang terdapat dalam mata pelajaran Kewarganegaraan sekaligus membimbing anak didik kearah pembentukan kepribadian yang berdasarkan kepada Pancasila.

5. Terjalinnya hubungan yang harmonis antara penulis sebagai pengajar dan pendidik dengan seluruh peserta didik ( anak didik ) dan terjalin kerjasama yang baik dan harmonis, serta sikap saling menghargai antara peserta didik itu sendiri selama proses pembelajaran Kewarganegaraan berlangsung, maupun sesudahnya.

Pada akhirnya akan tercipta suasana pendidikan yang kondusif serta tercapainya keberhasilan dalam pencapaian target nilai anak didik, baik diukur dari nilai kognitifnya maupun nilai afektifnya untuk mencapai Standar Ketuntasan Minimal dalam mata pelajaran Kewarganegaraan ini yakni 7,5.

Berdasarkan hasil di atas dapat dikatakan, ternyata proses pembelajaran Kewarganegaraan dengan menggunakan metode-metode aktive learning, menunjukkan hasil yang sangat menggembirakan, baik dilihat dari perolehan nilai kognitifnya maupun dari perubahan sikap dan perilaku peserta didik serta pemahaman terhadap pengamalan nilai-nilai Pancasila.

C. PENUTUP.

Dari pelaksanaan proses pembelajaran Kewarganegaraan yang menggunakan metode active learning, dapat disimpulkan bahwa: Melalui pembelajaran active learning, dapat menarik minat peserta didik untuk kembali bersungguh-sungguh mempelajari materi-materi yang terkandung dalam mata pelajaran Kewarganegaraan, sekaligus merupakan sarana yang tepat dalam penanaman kembali nilai-nilai Pancasila kepada anak didik.

Melalui metode Active Learning: 101 Strategi Pembelajaran Aktif yang kemukakan oleh Melvin L. Silberman, proses pembelajaran materi pelajaran Kewarganegaraan terasa lebih efektif digunakan dalam usaha menerapkan nilai-nilai Pancasila kepada setiap anak didik, karena melalui metode ini, dilakukan proses pembelajaran itu melalui 4 ( empat ) tahap yaitu :

  1. Tahap pertama: Memperkenalkan Konsep Belajar Aktif, melalui pengenalan model-model belajar, dimensi sosial belajar, kepedulian terhadap belajar aktif serta inti dan kerangka belajar aktif.
  2. Tahap kedua: Bagaimana Membuat Peserta Didik Aktif Sejak Dini, melalui strategi-strategi Membangun Tim, Penilaian Secara Cepat dan Melibatkan Peserta didik dalam belajar dengan segera.
  3. Tahap ketiga: Bagaimana Membantu Peserta Didik Memperoleh Pengetahuan, Keterampilan dan Sikap Secara Aktif melalui: Pengajaran Kelas Penuh, Merangsang Diskusi Kelas, Pertanyaan Terlalu Singkat, Belajar Dengan Cara Bekerja Sama, Mengajar Teman Sebaya, Belajar Mandiri, Belajar Efektif, Pengembangan Kecakapan.
  4. Tahap keempat: Bagaimana Belajar Agar Tidak Lupa, melalui: Strategi-strategi Meninjau Ulang, Penilaian Diri, Perencanaan Masa Depan dan Sentimen Terakhir.

Dengan menggunakan metode ini, usaha-usaha penanaman nilai-nilai Pancasila melalui proses pembelajaran dapat dilakukan dengan cara-cara yang menarik, sehingga anak didik tidak merasa bosan dan secara tidak disadari mereka telah belajar banyak hal, mulai dari memperoleh pengetahuan, menggalang kerjasama sampai kepada pentuan sikap.

Aktive Learning dengan 101 Strategi-strategi Pembelajaran Aktif dapat digunakan untuk hampir semua materi pelajaran. Strategi-strategi ini dirancang untuk memeriahkan dan menyemarakkan situasi belajar di dalam kelas.

Beberapa dari strategi-strategi ini sangat menyenangkan, meskipun beberapa yang lainnya mengarah pada hal yang serius, tetapi semuanya itu dimaksudkan untuk mendalami kegiatan belajar dan ingatan. Oleh sebab itu, menurut penulis metode-metode Mel Silberman ini dapat sangat membantu memecahkan masalaah-masalah pembelajaran dalam mata pelajaran Kewarganegaraan khususnya agar dapat melepaskan rasa kejenuhan dan kebosanan metode-metode lama dan sangat efektif dalam penanaman nilai-nilai terutama nilai-nilai yang berdasarkan Pancasila yang relevan dengan tujuan pembelajaran Kewarganegaraan.

Disamping itu penulis menghimbau kepada setiap organ yang terkait dalam penyusunan kurikulum pendidikan nasional, untuk kembeli memperhatikan pentingnya penanaman nilai-nilai dan sikap dalam setiap mata pelajaran, agar melalui proses pendidikan nasional ini kita tidak hanya melahirkan generasi-generasi bangsa yang cerdas, namun kita juga menciptakan manusia-manusia yang bermoral dan berkepribadian.

Kepada para pemimpin, penulis juga berharap: ” Mari kita sosialisasikan kembali akan pentingnya penanaman nilai-nilai Pancasila kepada seluruh lapisan masyarakat tanpa kecuali termasuk para pemimpin-pemimpin bangsa ini, agar bangsa ini betul-betul menjadi bangsa yang berkepribadian Pancasila, sehingga dapat menjadikan bangsa ini kembali menjadi bangsa yang bermartabat dan dihormati sebagai bangsa yang memiliki jati diri”.

DAFTAR PUSTAKA.

Azra, Azyumardi (2008). Pengantar: Pendidikan Kewarganegaraan (civic education), Edisi Ketiga Demokrasi Hak Asasi Manusia dan Masyarakat Madani . Jakarta:ICCE UIN.

Depdiknas (2003). Standar Kompetensi Mata Pelajaran Kewarganegaraan SMA, SMK dan MA. Jakarta: Depdiknas.

Mendiknas (2006). Permendiknas No. 22/2006: Tentang Standard isi. Jakarta: Depdiknas.

Sadikun, Imam (2008). Materi Diklat: Konsep Berfikir Ilmiah Dan Konsep Dasar Penelitian. Padang:Universitas Negeri Padang.

Silberman, Mel ( 2002). Active Learning. 101 Strategi Pembelajaran Aktif. Yogyakarta: Yappendis.

UUD 1945 (2002). Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945 yang telah diamandemen dengan penjelasannya. Surabaya: Pustaka Agung Harapan.


Responses

  1. Pancasila sebagai dasar negara, mesti ditanamkan di hati pelajar Indonesia

  2. assalamualaikum…..
    maju trus sma2 batusangkar,salam kenal dari siswa kelas XI ips sman1 simpang gobah/rambatan

  3. ass, ,
    maju terus my school, ,
    mari kita tunjukan pd dunia bahwa kita adalah juga merupakan sekolah yang terbaik! !


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: